PENGEMBANGAN MODEL PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) UNTUK PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL, TERTINGGAL, DAN TERDEPAN

DOI: https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v1n2.p122--142

Ade Koesnandar(1*)
(1) Pustekkom Kemdikbud
(*) Corresponding Author


This article has been read: 388 times



Abstract


This article is about the development of information and communication technology utilization model for education on remote, rural and border areas in Indonesia. The model is named “PSB di Daerah 3T” or information and communication technology-based learning resource center at school on remote, rural, and border areas. The model was developed based on modern learning, empowering, bottom- up, and partnership approaches and also set a benchmark with experiences of other countries. Piloting was developed in five sub-districts, they are Naringgul in Cianjur (West Java), Cijaku in Lebak (Banten), Atambua in Belu (East Nusa Tenggara), Sebatik in Nunukan (East Kalimantan), and Marore in Sangihe Islands (North Sulawesi). An elementary and a secondary school without electricity and internet access were choosen within each sub-district. Then a pack of learning resource contained an electric generator solar cell, a parabolic antenna, a television set, 6 units of laptop, wi-fi apparatus, and a hard disc of digital open learning material was given to each school. To ensure the success of the program a series of activities were conducted such as training, assistance, monitoring, and evaluation. Hopefully, within the following three years the program could be fully adopted and run independently by the school itself. Then the model could
be disseminated to another districts that have similar characteristics.

 

Abstrak

Artikel ini menjelaskan pengembangan model pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk sekolah di daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan. Model diwujudkan dalam bentuk “PSB di Daerah 3T” yakni pusat sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi di sekolah pada daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan. Pengembangan dilakukan berdasarkan konsep pembelajaran modern, pemberdayaan, tumbuh dari bawah, dan kemitraan, serta dengan belajar dari pengalaman Negara lain. Rintisan dikembangkan di lima daerah, yaitu Naringgul, Cianjur (Jawa Barat), Cijaku, Lebak (Banten), Atambua, Belu (NTT), Sebatik, Nunukan (Kalimantan Timur), dan Marore, Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Pada masing-masing daerah tersebut dipilih satu Sekolah Dasar dan satu Sekolah Lanjutan tingkat Pertama yang tidak terjangkau layanan energi listrik dan akses internet. Pada masing-masing sekolah tersebut diberikan paket bantuan pusat sumber belajar lengkap yang terdiri dari pembangkit listrik tenaga surya, antena parabola, pesawat televisi, 6 unit laptop, modem, wi-fi, dan sebuah harddisk satu terabyte berisi konten bahan belajar digital. Guna menjamin keberhasilan program ini diberikan pula paket pelatihan dan bimbingan, pendampingan, serta monitoring dan kajian. Selanjutnya diharapkan program ini dapat dijalankan secara mandiri oleh masing-masing sekolah. Model ini dapat diadopsi atau diadaptasi oleh Dinas Pendidikan dalam rangka memberikan layanan peningkatan kualitas pembelajaran di daerah masing-masing.


Keywords


learning resources; quality of education; border area; rural area; remote area; information and communication technology; sumber belajar; kualitas pendidikan; daerah terdepan; terpencil; tertinggal; teknologi informasi dan komunikasi

Full Text:

PDF

References


Chesler, Adam. 2010. Instructional Design, Today and Future, Alexandria Virginia, ASTD Research

Gomes, Ricardo. 2012. Libraries, Telecentres, Cybercafes, and Public Acces to ICT, International Comparisons, University of Washington, IGI Global

_____.Kemdiknas. 2014. Rencana Strategis Pendidikan Nasional 2010 – 2014. Jakarta: Kemdiknas

Kusnandar. 2008. Pemdayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pendidikan, modul pelatihan, Jakarta: Pustekkom

_____.Kemdiknas.2010. Pedoman Pengelolaan Pusat Sumber Belajar, Jakarta: Pustekkom

_____.Kemdikbud. 2012. Grand Desain Pusat Sumber Belajar untuk Daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan,Jakarta: Pustekkom

_____.Kemdikbud. 2012. Laporan Hasil Monitoring dan Evaluasi Pusat Sumber Belajar untuk Daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan, Jakarta: Pustekkom

Shear, Linda. 2013. Sixt Dimension of 21st Century Learning, California: SRI International, 2013

http://www.maendeleofoundation.org/(diakses 17 Feb 2013)

http://amore.org.ph/be-part-of-amore-story/help-rural-school-children-get-connected (diakses 17 Feb 2013)

http://www.unescap.org/idd/events/ADB- CeC-Subreg-2008/pdf/Agenda%20 Item3/ESCAP_regional%20overview_ rev4.pdf (diakses 19 Feb 2013)

http://www.iimahd.ernet.in/egov/ifip/feb2009/arvinddnarayanan.htm (diakses 19 Feb 2013)

http://research.microsoft.com/en-us/um/people/cutrell/RangaswamyTelecentersAndInternet_cafes.pdf (diakses 19 Feb 2013)

http://capweb.syridink.com/ diakses 19 Feb 2013

http://belajar.kemdikbud.go.id

http://tempo.co.id, 21 Des 2012

http://kompas.com, 13 Des 12

http://wartakotalive.com, 13 Nov 2012

www.warintek.ristek.go.id

http://capweb.syridink.com/


Article Metrics

Abstract viewed : 293 | PDF downloaded : 95

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2013 Jurnal Kwangsan




 

Kwangsan Indexed By

Sinta 2 (S2) Google Scholar ISJD Neliti Indonesia One SearchCrossref base-searchGarda Rujukan DigitalPKP IndexRoad # # # # # citefactor # # # # # # Zotero

Jurnal Kwangsan (e-ISSN 2622-4283 p-ISSN 2338-9184). Powered by OJS

Logo KemdikbudLIPI Ristekdikti Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan diterbitkan oleh Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan (BPMTV)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Alamat Redaksi:
Jl. Mangkurejo, Ds. Kwangsan, Sedati - Sidoarjo.
Telp 0318911373 Fax. 0318911392
Email: jurnal.kwangsan@kemdikbud.go.id

 

web statistics View My Stats